最新文章

Indonesia’s Sophisticated Sarcasm: An “Art of Resistance” Rooted in a Conflict-Avoidant Culture

圖片
  Recently, an internet phenomenon has emerged across Indonesian social media platforms such as Instagram and TikTok: a viral song titled “My Little Bolu Ketan” (“My Little Sticky Rice Cake”). The song itself is not entirely original. Its lyrics were assembled from sarcastic comments posted in social media discussion threads targeting Indonesia’s Minister of Energy and Mineral Resources, Bahlil Lahadalia. The melody was generated using an AI music platform, while the music video simply stitched together clips of Bahlil Lahadalia appearing in news footage. What makes the song truly “phenomenal” is that it has already evolved into a nationwide participatory meme culture — the kind of song people claim they never wanted to hear, yet somehow already know how to sing. Who exactly is Bahlil Lahadalia? Why did this bizarre viral anthem emerge? What uniquely Indonesian political, social, and cultural dynamics lie beneath it? And more importantly: what, if anything, can a meme song actua...

【日惹隨筆】關於印尼台籍男子的短篇故事(第1集)—月餅(Kue Bulan)

 

【日惹隨筆】關於印尼台籍男子的短篇故事—月餅(Kue Bulan)

這學期的寫作課更像華聲作文補習班。三周前(中秋節的前一周),老師出了個家庭作業,用600字寫一篇短篇故事,且必須以一個節慶為背景。除了交代這個節慶的意涵,還要帶進一個虛構的故事和描述故事主角的特質。原本覺得600字已經是個難以達成的目標,但最後還是被我寫到了900字。

不出意外的,我選了中秋節。也不出意外的,我寫了一個很悲的故事。更不出意外的,我為了能去泗水玩三天兩夜,硬是用兩天的時間寫完它。

我大概花了兩天的時間、總共8小時,完成這一篇作文。從使用印尼文寫作、確認單字使用的正確性(尤其是動詞、以及它的前綴/後綴/環綴)、到最後確認文法結構。

完成的當下,我深知自己寫得非常好,並且我可能沒辦法在台灣或用中文寫出這樣的東西。語言的部分,也許可以有更好的表達方式,但故事內跨文化與空間的連結與隱喻、場景的設定、人物特質的描述、人物行為的描述、和情緒節奏的堆疊,我個人感覺非常滿意。

今天老師念我的作文前,說這篇:luar biasa (extraordinary)。但我還是像個小孩子一般,緊張地咬著手指頭,深怕老師看不懂這篇故事在寫些甚麼。以下就以茲紀念。


【第2集在這邊】

---(分隔線)---

Judul: Kue Bulan

*“Lianji” dan “tausa” adalah dalam bahasa Hokkien.

 

Sayang, Mid-Autumn Festival berada pada minggu depan. Kamu mau beli kue bulan tahun ini?” tanya Siti.

Pranoto menjawab, “Sama seperti tahun lalu ya. Dua rasa lianji (pasta biji teratai) dan dua rasa tausa (pasta kacang merah). Semuanya pakai telur asin. Bisa?”

Tahun ini adalah tahun ke-10 Pranoto tinggal di Indonesia. Setelah lulus kuliah tinggi, dia memutuskan untuk bekerja di negara asing. Pekerjaan sebagai karyawan di pabrik furnitur di Cirebon yang dimiliki oleh orang Taiwan adalah perkerjaan pertama dan terakhir dalam kariernya. Sedangkan, Siti juga bekerja di sana.

Hingga saat ini, Pranoto tetap tidak bisa melupakan perkenalan dirinya yang pertama kali, dengan malu dan gagap, kepada Siti. Pada pandangan pertama, Pranoto langsung tertarik dengan suaranya yang lembut, senyumnya yang cerah, serta matanya bulat dan besar, yang mengingatkan dia pada ibunya. Mereka segera jatuh cinta dan menikah setelah tiga tahun bersama.

Pada hari upacara pernikahan, semua teman yang Pranoto pernah temui di kampung halaman atau di Indonesia menghadiri, kecuali anggota keluarganya. Sebenarnya, Pranoto tidak pernah mengundang anggota keluarganya. Siti sudah mengetahui alasannya dan menerimanya dengan hati yang penuh empati dan optimisme.

Sesudah menikah, mereka pulang ke Jogja di mana kampung halaman Siti, alih-alih  kampung halaman Pranoto. Mereka mendapat modal dari tabungannya dan orang tua Siti untuk membuka sebuah warung makan. Segera, Warung Pak Pranoto Taiwan Asli dibuka dengan lancar.

Enam tahun lalu, mereka menyambut kelahiran anak laki-laki yang mereka beri nama Hartono. Kehidupan baru di Jogja menggembirakan mereka, tetapi Pranoto masih merasa sedih sedikit saat makan, melihat, mendengar, atau memikirkan sesuatu yang terhubung dengan kampung halamannya.

Salah satu hal yang menyenangkan Pranoto sangat, tetapi dengan perasaan campur aduk, adalah saat dia mengendarai motor untuk menjemput Hartono dari sekolah TK ke rumahnya. Selama hampir seluruh waktu, Pranoto selalu bercerita kepada Hartono tentang mengapa jatuh cinta dengan Mama, bagaimana tampannya Papa, dan lain-lain yang penuh kebanggaan. Akan tetapi, setiap kali melintasi Jembatan Flyover Lempuyangan, dia selalu bertanya dengan suara bergetar, “Kamu takut? Jangan takut ya. Pegang Papa erat-erat ya.” Atau ketika mampir Stasiun Tugu, dia selalu bertanya dengan suara murung, ”kamu suka kereta? Papa suka melihat kereta api lewat dengan cepat. Itu bisa membawa kamu ke tempat yang jauh.”

Hari Selasa, 17 September tahun ini, malam bulan purnama, menurut kalender bulan Tionghoa, adalah Mid-Autumn Festival yang liburan terkenal di kalangan budaya Tionghoa. Pada Mid-Autumn Festival, seluruh anggota dalam tiap-tiap keluarga akan pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama. Hari ini, Pranoto mengundang mertuanya, kakak iparnya, dan para keponakannya untuk makan malam bersama di warungnya setelah mereka selesai bekerja atau belajar.

Warung Pak Pranoto Taiwan Asli tutup pada siang hari. Pranoto dan Siti menyiapkan makanan-makanan untuk makan malam. Seperti biasanya, Siti memasak Gudeg, sementara Pranoto menyiapkan kompor arang dan bahan-bahan untuk sate bakar. Siti teringat bahwa suaminya pernah menyebutkan cita rasa makanan kampung halamannya yang manis serta BBQ yang biasa dinikmati saat malam Mid-Autumn Festival. Oleh karena itu, makanan yang mereka sajikan untuk makan malam pada Mid-Autumn Festival selalu berupa makanan manis dan panggang.

Sayang, jangan lupa jemput Hartono dari sekolah dan ambil kue bulan,” kata Siti mengingatkan. Pranoto menjawab, “Siap! Aku akan segera berangkat.” Lalu, Pranoto mengendarai motor ke tempat penjualan kue untuk mengambil kue bulan, kemudian menjemput Hartono dari sekolah. Pranoto memarkir motornya di pinggir luar sekolah untuk menunggu Hartono.

Hari ini, Hartono keluar dari pintu sekolah dengan penuh kegembiraan karena dia tahu akan makan kue bulan. Dia selalu merindukan rasa manis dan asin yang bercampur serta teksturnya yang lembut dan halus. Namun, Papa hanya mengizinkannya makan kue itu setahun sekali. Saat duduk di depan motor, Hartono bertanya kepada Papanya dengan suara lucu, “Papa, aku boleh makan kue ini?” “Boleh, nanti makan bersama Mama, kakek, dan nenek. Sebelum makan kue, Papa mau bercerita tentang Mid-Autumn Festival,” jawab Pranoto.

Pranoto terus bercerita dengan suara keras saat mengendarai motor, “Pada zaman dahulu di Cina, sepuluh matahari muncul di langit sehingga tanah dan air laut mengering. Seorang pahlawan menembak jatuh sembilan matahari untuk menyelamatkan masyarakat. Sebagai hadiah ucapan terima kasih, Tuhan memberinya obat ajaib yang bisa membuat manusia abadi. Selain itu, dia menikah dengan seorang wanita cantik dan jalani hidup bahagia.

Suatu hari, ketika dia pergi berburu, orang jahat datang ke rumahnya untuk mencuri obat ajaib itu. Istrinya menelan obat itu untuk melindungi obat dari pencurian. Karena efek obat itu, istrinya melayang ke udara, semakin tinggi, dan akhirnya mencapai bulan.” Pranoto tiba-tiba berhenti bercerita saat mengendarai di Jembatan Flyover Lempuyangan, di mana kereta api sedang melintas di bawahnya. Hartono merasakan tubuh Papa gemetar dengan emosi yang intens.

Setibanya di warung, Hartono berlari menuju ibunya dan berbisik, “Mama, Papa sepertinya menangis.” Ibunya berbisik menjawab, “Papa mungkin merindukan orang tuanya.”

Hartono terus bertanya dengan suara yang semakin keras, “tapi aku tidak pernah melihat orang tua Papa.” Suasana di dalam warung menjadi canggung.

Nenek berkata kepada Hartono, “karena orang tuanya bekerja di tempat jauh banget ya.” Lalu, Hartono pergi bermain dengan sepupunya. Sementara itu, Siti menghela nafas dan berkata kepada kakaknya, “Ibu Pranoto bunuh diri karena overdosis obat. Ayahnya juga bunuh diri dengan melompat dari jembatan di atas rel karena terlalu sedih. Pranoto dikirim jauh dari kampung halamannya saat berusia enam tahun.” Semua orang di warung diam.

Kakek memandangi punggung Pranoto yang sedang membuat sate di depan pintu dan berkata, ”Bulan berada jauh dan tidak dicapai, sama seperti kerinduan. Hari ini seharusnya menjadi hari untuk merayakan reuni bagi menantuku.”

【第2集在這邊】 


【更多內容,請關注追蹤】

FB專頁「海森飽嗝遊記&財經筆記

FB專頁「半百大叔在日惹躺平

部落格「海森飽嗝財經筆記」:日惹隨筆

海森飽嗝遊記YouTube頻道

【版權聲明】未經「海森飽嗝財經筆記」授權,切勿轉載本站圖文。「本站」包含「海森飽嗝財經筆記」臉書專頁、「海森飽嗝財經筆記」部落格@blogspot、「海森飽嗝財經筆記」部落格@Medium、海森飽嗝遊記YouTube頻道。