【日惹隨筆】拿對鑰匙才能打開在印尼製作西式麵團的大門--那鑰匙名叫Kunci Biru
距離第1集也是一年有餘。好像都是下學期的課程才會叫學生寫一篇短篇故事。這次的短篇故事就延續第1集的角色設定。只是這次超懶,只寫了不到四百字,單一場景。希望明年還會出第3集。
Satu tahun kemudian, Pranoto dan Siti, pasangan suami dan istri, memutuskan pindah ke desa Jogja. Pranoto yakin bahwa keuntungan tinggal di desa lebih banyak daripada kekurangan: rumah lebih luas, tekanan belajar anak lebih ringan, bisa mewujudkan mimpinya memancing di sungai atau selokan, bisa merawat orang tua Siti, dan lain-lain, meskipun rumahnya berada di seberang makam.
“Sayang, bisa bakar semua sampah dan dedaunan malam hari ini?” tanya
Siti. Oh iya, Pranoto memang selalu menikmati panas dan cahaya api ketika
membakar sesuatu. “Besok hari Senin, semua anggota keluarga akan datang makan
malam bersama. Tugasmu harus selesai malam hari ini, jelas?” lanjut Siti dengan
suara berat sedikit.
“Yes, Madam!” jawab Pranoto dalam bahasa Inggris.
Hari Senin, 6 Oktober tahun ini, bertepatan dengan malam bulan
purnama menurut kalender Tionghoa, yaitu Mid-Autumn Festival yang terkenal dalam
budaya Tionghoa. Pranoto dan Siti akan merayakannya untuk kedelapan kalinya
sejak menikah, sementara bagi anak mereka, Hartono, ini yang ketujuh kalinya. Orang
tua Siti juga menyukai hari raya itu karena semua anggota keluarga bisa
berkumpul bersama atas undangan mereka.
“Hartono, bisa bantu Papa?” tanya Pranoto.
“Mau bantu apa,
Papa?” jawab Hartono sambil berjalan ke halaman utara rumah, yang letaknya
tepat di seberang makam.
“Kumpulkan sampah dan daun kering ke pinggir halaman, nanti kita
bakar, hehehe,” kata Pranoto nakal.
Ketika Hartono mengumpulkan sampah, Pranoto bercerita, “Dulu waktu
kecil, selain berkumpul bersama keluarga, kami juga memandangi bulan purnama
sambil membakar uang kertas untuk leluhur, berharap semua berjalan baik.” Pranoto
mula-mula menatap bulan, lalu menundukkan kepalanya, menyalakan korek api dan
mulai membakar tumpukan sampah dan dedaunan.
Hartono berpura-pura mendengarkan, sambil berusaha menendang abu
yang masih membara, seperti menirukan tarian Sanghyang Bali. “Jangan, Hartono!”
kata bentak Pranoto. Hartono segera berhenti. Pranoto masih terus berkata
“bahaya banget...”, namun suaranya mendadak mengecil. Hartono terkejut melihat
wajah ayahnya yang kaku, lalu berteriak, “Kakek, cepatlah kemari!”
Kakek mendekat dan bertanya, “Ada apa?”
Pranoto menjawab dengan suara yang bergetar, “Aku merasakan angin
semilir bertiup dari arah utara, sambil seolah melihat bayangan orang tuaku
dalam cahaya api, tersenyum kepadaku.”
Kakek berbisik ke telinga Pranoto sambil tersenyum, “Mereka sudah
kembali untuk berkumpul dengan kita.”
【更多內容,請關注追蹤】
FB專頁「海森飽嗝遊記&財經筆記」
FB專頁「半百大叔在日惹躺平」
【版權聲明】未經「海森飽嗝財經筆記」授權,切勿轉載本站圖文。「本站」包含「海森飽嗝財經筆記」臉書專頁、「海森飽嗝財經筆記」部落格@blogspot、「海森飽嗝財經筆記」部落格@Medium、海森飽嗝遊記YouTube頻道。