Bobot Sebuah Sponsor|ArtJog: Perebutan Modal Budaya, atau Koreografi Panggung yang Terus Berulang?

 

Bobot Sebuah Sponsor|ArtJog: Perebutan Modal Budaya, atau Koreografi Panggung yang Terus Berulang?

Pada Jumat petang, 19 Juni 2026, halaman Jogja National Museum (JNM) mulai dipenuhi orang. Lampu-lampu baru saja dinyalakan, dan para tamu perlahan berkumpul untuk menghadiri pembukaan ArtJog 2026. Mengusung tema Ars Longa: Generatio, seni yang bertahan melampaui generasi, perhelatan seni kontemporer terbesar di Indonesia itu bersiap membuka tirainya.

Namun sebelum acara resmi dimulai, seorang pria berdiri di dekat pintu masuk sambil menggenggam setangkai bunga. Ia memulai monolognya:

"Seni telah mati. Sastra telah mati."

Ia adalah anggota kolektif seniman ArtJokes. Kalimatnya bahkan belum selesai ketika petugas keamanan mulai mendekat.

Saya tinggal di Yogyakarta. Sebagai seorang Taiwan yang telah menetap beberapa tahun di kota ini, saya terbiasa mengamati politik internalnya dari posisi seorang luar. Posisi sebagai "orang lain" ini bukan posisi yang netral, juga bukan berarti lebih objektif dibanding mereka yang lahir dan besar di sini. Ia hanya menawarkan jarak pandang yang berbeda. Ada retakan yang tak lagi terlihat oleh mereka yang terlalu lama hidup di dalamnya; ada pula struktur yang justru lebih mudah dikenali oleh orang yang berdiri di luar.

Yogyakarta adalah kota dengan jumlah seniman yang luar biasa banyak, sekaligus kota dengan watak yang keras kepala. Dunia seninya menyimpan memori kolektif yang khas: euforia Reformasi 1998, perasaan bahwa akhirnya mereka bisa berbicara, mengkritik, dan mengekspresikan diri tanpa rasa takut yang sama seperti sebelumnya. Namun di bawah semangat itu, selalu ada kecemasan struktural yang terus berulang, tentang uang, tentang ruang pamer, dan tentang siapa yang berhak menentukan siapa yang layak untuk dilihat.

Karena itu, kegaduhan dalam pembukaan ArtJog tahun ini tidak terasa mengejutkan bagi saya. Ia adalah sesuatu yang telah lama menumpuk, dan pada akhirnya menemukan bentuknya.

Sebuah Festival Seni dan Riwayat Kelahirannya

ArtJog berawal dari Jogja Art Fair (JAF) yang diluncurkan pada 2008. Pada masa awalnya, kegiatan ini digerakkan oleh para seniman dengan orientasi nonkomersial, sebelum secara bertahap bertransformasi menjadi pameran seni kontemporer berbasis kuratorial.

Di bawah kepemimpinan Heri Pemad, sejak 2009 ArtJog mulai mengadopsi logika kurasi: tema tahunan, proses seleksi, hingga undangan kepada seniman tertentu. ArtJog tidak lagi sekadar menjadi pasar seni, melainkan berkembang menjadi institusi yang memiliki kapasitas produksi wacana. Memasuki pertengahan dekade 2010-an, ArtJog telah menjelma menjadi salah satu platform seni kontemporer paling penting di Indonesia, menarik perhatian kurator, kolektor, dan media dari berbagai negara di kawasan.

Pertumbuhan ini tentu membawa prestasi. Namun seperti banyak institusi budaya lainnya, ia juga membawa konsekuensi.

Sebuah kegiatan yang lahir dari komunitas seniman, ketika bergerak menuju institusionalisasi, akan menghadapi ketegangan mendasar yang sejak lama telah dibahas Pierre Bourdieu. Sebuah artistic field membutuhkan relative autonomy untuk mempertahankan legitimasi simboliknya. Namun otonomi tersebut tidak pernah hadir secara otomatis. Ia harus terus-menerus diperebutkan dan dipertahankan dalam tarik-menarik dengan medan politik maupun medan ekonomi.

Semakin besar sebuah pameran, semakin besar pula kebutuhan anggarannya. Pada titik itu, sponsor bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang sulit dihindari. Dan setiap sponsor yang masuk sesungguhnya merupakan negosiasi ulang atas batas-batas medan tersebut. Kadang hanya berupa penyesuaian kecil. Kadang menjadi perubahan yang lebih mendasar.

Pergeseran Sejarah Struktur Sponsor

Sejarah sponsor ArtJog pada dasarnya adalah sejarah bergesernya batas-batas medan budaya secara perlahan.

Pada masa awal, ArtJog banyak bergantung pada dukungan pemerintah daerah dan sponsor swasta berskala kecil. Ekosistemnya relatif sederhana. Namun memasuki pertengahan 2010-an, sponsor korporasi mulai masuk.

Salah satu kontroversi terbesar terjadi pada 2016 ketika Freeport Indonesia menjadi sponsor ArtJog 9. Kritik segera bermunculan. Seniman, aktivis lingkungan, dan organisasi HAM menyoroti rekam jejak Freeport di Papua yang selama bertahun-tahun dikaitkan dengan kerusakan lingkungan dan persoalan hak asasi manusia. Pada saat yang sama, ArtJog juga menampilkan berbagai karya yang mengangkat isu-isu sosial kritis. Bagi banyak pihak, kedua hal tersebut menciptakan kontradiksi moral yang sulit diabaikan. Beberapa seniman melakukan aksi protes secara langsung setelah melihat logo Freeport di area pameran. Sebagian lainnya menginisiasi petisi yang menuntut agar dana sponsor tersebut dikembalikan.

Namun akhir dari peristiwa itu memperlihatkan pola yang kemudian terus berulang: pameran tetap berlangsung, kritik tercatat dalam sejarah, dan kehidupan berjalan seperti biasa.

Pola yang sama muncul dalam berbagai kontroversi berikutnya. Masuknya BRI dan Pertamina sebagai sponsor dapat dibaca sebagai kelanjutan dari normalisasi modal negara di ruang budaya. Dunia seni pun perlahan terbiasa dengan aturan main tersebut: menerima sponsor, menegaskan independensi, terus berkarya, sesekali menghadapi protes, lalu mengulang siklus yang sama pada tahun berikutnya.

Dalam konteks itulah kemunculan Didit Hediprasetyo Foundation pada ArtJog 2026 perlu dibaca. Sepintas ia tampak hanya sebagai langkah berikutnya dalam evolusi yang sama. Namun sesungguhnya ada perubahan sifat yang lebih mendasar.

Sebuah Nama dan Bobot yang Dibawanya

Didit Hediprasetyo, lahir pada 1984, adalah seorang desainer mode Indonesia yang menempuh pendidikan di sekolah mode ternama di Paris. Ia dikenal sebagai desainer Indonesia pertama yang menampilkan karyanya dalam Haute Couture Week di Paris. Di dunia mode, ia memiliki rekam jejak yang nyata. Karyanya pernah tampil di Tatler Asia maupun Harper's Bazaar Indonesia. Ia bergerak di ranah busana haute couture dan mendapat perhatian dari kolektor maupun media internasional. Pada 2024, ia juga menjadi perancang seragam kontingen Indonesia untuk Olimpiade Paris, yang kemudian memperoleh sorotan luas di berbagai media internasional.

Semua pencapaian itu nyata. Didit bukan sosok tanpa kompetensi yang hanya hidup dari nama besar keluarganya.

Namun persoalannya terletak pada hal lain: batas antara visibilitasnya di dunia mode dan posisi ayahnya di medan politik tidak pernah benar-benar jelas. Hampir setiap artikel yang membahas Didit selalu menyertakan satu identitas yang sama, "putra Prabowo Subianto". Ini bukan sekadar informasi tambahan yang bisa dihilangkan begitu saja. Dalam banyak hal, identitas tersebut merupakan bagian struktural dari citra publiknya.

Kemunculannya di Haute Couture Week tentu merupakan hasil kerja keras pribadi. Namun ketika pencapaian itu hadir bersamaan dengan momentum politik ayahnya, mulai dari masa kampanye, kemenangan pemilu, hingga masa pemerintahan, serta mendapat sorotan media yang begitu besar, maka sulit untuk mengatakan bahwa seluruh visibilitas tersebut sepenuhnya lahir dari pengakuan otonom komunitas mode. Sebagian darinya merupakan efek limpahan modal politik.

Yang lebih penting lagi, perpindahan dari desainer mode menjadi sponsor seni kontemporer merupakan perpindahan medan. Di dunia mode, Didit memiliki posisi tertentu. Namun dalam konteks komunitas seni Yogyakarta, sebuah komunitas yang dibangun oleh tradisi kritik, jaringan lokal yang panjang, dan relasi yang berkembang selama puluhan tahun, setidaknya berdasarkan keterlibatan publik yang dapat dilihat selama ini, nama Didit Hediprasetyo nyaris tidak memiliki akumulasi kepercayaan maupun keterhubungan yang setara. Meski demikian, melalui mekanisme sponsor, yayasannya dapat langsung masuk ke posisi inti medan tersebut dan berdiri sejajar dengan BRI maupun Pertamina.

Di titik ini, konsep habitus dari Pierre Bourdieu menjadi sangat relevan. Latar belakang sosial sering kali menentukan sumber daya awal yang dimiliki seseorang ketika memasuki sebuah medan, sekaligus menentukan seberapa mahal biaya yang harus ia keluarkan untuk dilihat dan diakui. Bagi seorang seniman muda biasa, memperoleh pengaruh dalam struktur sponsor ArtJog hampir merupakan hal yang mustahil. Sebaliknya, Didit Hediprasetyo Foundation dapat langsung menempati posisi sebagai mitra strategis hanya melalui sebuah logo. Persoalannya bukan semata-mata soal kerja keras individu. Ini adalah konsekuensi dari habitus. Cara Didit memasuki medan seni tersebut sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kondisi akses dalam medan itu sejak awal tidak pernah sepenuhnya setara.

Lensa Bourdieu: Perebutan Modal Budaya

Dalam kerangka teori Pierre Bourdieu, para aktor sosial terus-menerus melakukan akumulasi dan konversi modal di berbagai medan. Modal budaya, modal sosial, modal ekonomi, dan modal simbolik dapat saling ditukar dalam kondisi tertentu.

Kemunculan Didit Hediprasetyo Foundation dalam daftar sponsor ArtJog dapat dibaca sebagai proses konversi modal yang sangat konkret:

Modal politik (status ayah sebagai presiden) → modal ekonomi (dana sponsor) → modal budaya (citra sebagai pendukung seni kontemporer) → modal simbolik (legitimasi sebagai figur budaya yang progresif dan terbuka).

Keistimewaan rantai konversi ini terletak pada kemampuannya menyembunyikan sisi yang paling problematis melalui sisi yang paling indah. Seluruh proses itu dapat berlangsung tanpa perlu satu pun kebohongan eksplisit.

Namun Bourdieu juga menawarkan konsep lain yang jauh lebih mengganggu: symbolic violence (kekerasan simbolik). Bentuk kekuasaan ini bukanlah paksaan fisik. Ia bekerja secara halus, nyaris tak terlihat, dan sering kali diterima oleh semua pihak yang terlibat. Ketika ArtJog menerima sponsor tersebut, yang diterima bukan hanya dana. Pada saat yang sama, ada seperangkat aturan yang secara diam-diam ikut dilegitimasi: bahwa sumber daya budaya dapat diperoleh melalui konversi modal politik. Tidak ada yang perlu mengucapkan aturan itu secara terbuka. Ia perlahan menjadi normal, meresap ke dalam logika operasional tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya.

Di titik ini muncul pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman, dan pertanyaan itu bukan hanya ditujukan kepada institusi, melainkan juga kepada seluruh peserta yang berada di dalamnya.

Ketika para seniman menghadirkan karya, reputasi, dan tubuh mereka sendiri ke dalam pameran tersebut, mereka turut memberikan legitimasi budaya kepada ArtJog. Dalam arti objektif, apakah kehadiran mereka juga ikut membantu reproduksi medan yang sama? Ini bukan penghakiman moral. Ini adalah pertanyaan sosiologis dalam pengertian yang sangat Bourdieuian.

Struktur tidak membutuhkan persetujuan aktif dari setiap individu. Ia hanya membutuhkan orang-orang untuk terus melakukan apa yang selama ini sudah mereka lakukan. Dan di situlah letak kekuatan paling sulit digoyahkan dari struktur yang menjerat semua orang sebagai peserta: tidak ada tokoh jahat yang harus disalahkan. Yang ada hanyalah sebuah sistem yang membuat semua orang terus bergerak ke depan di jalur yang sama.

Persoalan Artwashing: Mengapa Sulit Dihindari dalam Kasus Ini

Secara sederhana, artwashing adalah upaya memanfaatkan aura seni untuk mempercantik citra yang membutuhkan legitimasi. Konsep ini berkembang dari kritik terhadap hubungan antara perusahaan-perusahaan besar dan institusi budaya, versi kultural dari greenwashing: sponsor memperoleh modal simbolik berupa citra "terbuka", "berbudaya", atau "progresif", sementara institusi seni memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk bertahan dan berkembang. Pertukaran itu berlangsung tanpa banyak kata.

Saya tidak memiliki akses terhadap isi kontrak antara Didit Hediprasetyo Foundation dan ArtJog. Saya juga tidak mengetahui jumlah dana yang diberikan. Namun justru karena beberapa kondisi yang dapat diamati secara terbuka, persoalan artwashing menjadi sulit dihindari dalam kasus ini.

Sebuah yayasan milik putra presiden yang sedang menjabat memasuki salah satu festival seni kontemporer paling prestisius di Indonesia sebagai sponsor, dan bahkan dijadwalkan memberikan sambutan dalam acara pembukaan. Terlepas dari ada atau tidaknya syarat yang menyertai dana tersebut, efek simbolik yang dihasilkan sudah terlanjur terjadi: nama sebuah keluarga politik ditempatkan berdampingan dengan legitimasi yang dimiliki medan seni. Karena itu, permintaan agar institusi seni menjelaskan logika di balik kedekatan simbolik tersebut adalah sesuatu yang wajar.

Fenomena ini tentu bukan monopoli Indonesia. Selama puluhan tahun BP mensponsori British Museum sembari membangun citra sebagai perusahaan yang bertanggung jawab, meskipun operasinya di berbagai belahan dunia terus dikritik karena dampak lingkungan yang ditimbulkan. Qatar menggunakan olahraga sebagai instrumen diplomasi budaya. Arab Saudi menginvestasikan dana besar dalam festival seni dan proyek kebudayaan. Semua contoh tersebut bergerak dalam logika yang serupa: memanfaatkan legitimasi simbolik budaya untuk memperkuat legitimasi politik.

Keunikan kasus ArtJog–Didit terletak pada fakta bahwa objek yang memperoleh manfaat simbolik bukanlah sebuah perusahaan, melainkan sebuah keluarga politik. Dan bagi banyak seniman Indonesia, nama Prabowo tidak bisa dilepaskan dari rekam jejak pelanggaran HAM yang berat dan belum pernah diselesaikan secara tuntas. Karena itu, dibandingkan kasus sponsor korporasi pada umumnya, kontroversi kali ini lebih mudah dibaca oleh sebagian seniman dan pengamat sebagai persoalan artwashing.

Yang paling menarik dari mekanisme artwashing adalah bahwa ia tidak menuntut perubahan isi. Pameran tetap berlangsung. Karya-karya kritis tetap dipajang. Semangat Aksi Kamisan tetap dapat dikutip oleh penyelenggara sebagai bukti bahwa suara-suara kritik masih diberi ruang. Justru di situlah letak kecanggihannya: ketika kritik diizinkan hadir dan kemudian menjadi bagian dari keseluruhan pertunjukan, kritik itu sendiri dapat berubah menjadi sumber legitimasi baru. Apa yang tampak sebagai perlawanan dapat sekaligus berfungsi sebagai bukti bahwa institusi tersebut terbuka terhadap perbedaan pendapat.

Di titik ini, teori hegemoni Antonio Gramsci membantu menjelaskan lapisan yang lebih dalam. Hegemoni tidak bekerja terutama melalui paksaan. Ia bekerja ketika orang-orang menganggap suatu tatanan sebagai sesuatu yang wajar, rasional, dan bahkan menguntungkan bagi mereka sendiri. Institusi seni memperoleh sumber daya. Sponsor memperoleh citra positif. Seniman memperoleh ruang pamer. Publik memperoleh pengalaman budaya. Tidak ada yang dipaksa. Namun justru karena itulah kritik menjadi begitu sulit, sebab yang harus dihadapi bukan lagi individu tertentu, melainkan sebuah struktur yang memungkinkan semua pihak memperoleh sesuatu. Dan selama struktur itu terus memberikan manfaat bagi banyak orang sekaligus, upaya mengubahnya akan selalu menghadapi hambatan yang jauh lebih besar.

Lensa Goffman: Koreografi Panggung yang Dikelola dengan Cermat

Jika Pierre Bourdieu membantu menjelaskan bagaimana sebuah medan dapat ditembus oleh kekuatan eksternal, dan Antonio Gramsci menjelaskan bagaimana kritik dapat diserap oleh hegemoni, maka Erving Goffman membantu kita memahami bagaimana semua proses itu dipentaskan dalam interaksi sehari-hari.

Dalam kerangka Goffman, kehidupan sosial dapat dipahami sebagai serangkaian pertunjukan yang terus berlangsung. Para aktor mempertahankan citra tertentu di front stage dan melakukan negosiasi, penyesuaian, serta persiapan di back stage. Teknik utamanya adalah impression management (manajemen kesan). Kerangka ini tidak bertujuan menghakimi secara moral. Ia hanya menunjukkan bagaimana individu dan institusi mengelola cara mereka dilihat oleh publik.

Dilihat dari perspektif ini, kontroversi ArtJog–Didit hampir menyerupai contoh buku teks tentang impression management.

Front Stage

ArtJog tampil sebagai festival seni kontemporer paling bergengsi di Indonesia: terbuka, kritis, dan plural. Tema tahunannya merujuk pada pemikiran David Graeber dan menegaskan semangat seni yang digerakkan oleh para seniman, bukan semata-mata oleh logika pasar. Di daftar sponsor terdapat sebuah "Foundation", istilah yang secara spontan memunculkan asosiasi tentang filantropi budaya, bukan intervensi politik.

Back Stage

Pada malam 18 Juni, logo Didit Hediprasetyo Foundation menghilang dari situs resmi ArtJog. Penyelenggara mengevaluasi arah opini publik dan menyesuaikan strategi komunikasi mereka. Keputusan akhirnya: Didit tidak hadir dalam pembukaan, hubungan sponsor tetap berjalan, dan penyelenggara mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada intervensi terhadap kebebasan artistik.

Logika Impression Management

Meskipun tekanan publik kemungkinan berperan dalam absennya Didit, langkah tersebut lebih menyerupai penyesuaian teknis dalam manajemen krisis daripada perubahan mendasar dalam struktur sponsor. Properti yang paling mencolok disingkirkan, tata panggung diperbaiki, namun hubungan pendanaan yang berada di belakang layar tetap utuh. Yang dilihat publik adalah respons institusi terhadap kritik. Yang sesungguhnya berubah hanyalah pengelolaan visibilitas di ruang depan.

Dalam konteks budaya Yogyakarta dan Indonesia, pola ini menemukan tanah yang subur. Jaga Muka merupakan logika sosial yang sangat kuat. Konflik terbuka sering kali dianggap sebagai pilihan yang mahal, dan harmoni di permukaan berfungsi sebagai pelumas hubungan sosial. Sementara itu, semangat musyawarah mufakat membuat banyak keputusan penting diselesaikan melalui percakapan informal sebelum muncul ke ruang publik. Kondisi ini menyediakan lingkungan yang hampir ideal bagi bentuk-bentuk impression management ala Goffman. Bahkan ketika tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama terhadap situasi yang sedang berlangsung, logika budaya tersebut tetap membantu mempertahankan pemisahan antara panggung depan dan panggung belakang.

Malam Pembukaan ArtJog 2026: Setangkai Bunga dan Batas Kemungkinannya

Seniman yang berdiri di pintu masuk JNM sambil membawa bunga dan menyatakan bahwa "seni telah mati" adalah salah satu bentuk tindakan langsung yang paling jelas yang saya lihat di lingkungan seni Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak 2024, saya semakin menyadari bahwa strategi yang paling sering digunakan seniman Yogyakarta ketika berhadapan dengan tekanan politik adalah mengubah kritik menjadi metafora yang dapat dinegosiasikan. Kecemasan politik diterjemahkan ke dalam instalasi, pertunjukan tubuh, atau simbol-simbol visual. Bahasa dibuat cukup kabur sehingga dapat ditafsirkan ke berbagai arah. Dan jika diperlukan, seniman masih dapat berkata: "Itu bukan pernyataan politik. Itu ekspresi artistik." Strategi semacam ini memiliki kecerdasannya sendiri. Namun ia juga memiliki keterbatasan mendasar. Ia bersifat defensif, bukan ofensif. Ia dapat melindungi individu, tetapi tidak selalu mampu mengubah logika medan yang lebih besar.

Di situlah tindakan ArtJokes menjadi menarik. Nama "ArtJokes" sendiri merupakan permainan bunyi yang secara langsung merujuk pada ArtJog. Pilihan nama itu sudah merupakan sebuah pernyataan: bahwa institusi yang dianggap paling penting sekalipun tidak kebal terhadap ejekan. Lebih jauh lagi, aksi mereka dilakukan di pintu masuk, bukan di dalam ruang pamer. Pilihan geografis tersebut memiliki makna simbolik yang kuat: kritik tidak disampaikan di dalam ruang yang telah disediakan institusi, melainkan di ambang batas institusi itu sendiri.

Namun kenyataan struktural tetap berdiri dengan tenang di hadapan semua orang. Tidak ada seniman peserta yang mengundurkan diri. Tidak ada hubungan sponsor yang dibatalkan. Ini bukan soal keberanian individu. Ini adalah persoalan struktur. Ketika ArtJog menjadi salah satu platform pameran paling penting dan nyaris tak tergantikan di Indonesia, biaya untuk keluar dari sistem menjadi sangat tinggi. Ruang yang tersedia bagi pilihan moral individu menjadi jauh lebih sempit dibandingkan yang sering dibayangkan.

Seorang seniman mungkin secara pribadi menolak sponsor tersebut. Namun secara objektif, kehadirannya tetap menjadi salah satu syarat yang memungkinkan medan itu terus berjalan. Para seniman memberikan legitimasi budaya kepada pameran, sementara legitimasi budaya itulah yang memungkinkan mekanisme artwashing memperoleh kekuatannya.

Di sinilah letak aspek paling menyesakkan dari struktur yang menjerat semua orang sebagai peserta: ia tidak membutuhkan orang-orang jahat. Ia hanya membutuhkan semua orang untuk terus melakukan apa yang selama ini sudah mereka lakukan.

Mungkinkah Keluar dari Takdir yang Diramalkan Teori?

Jika Pierre Bourdieu dibiarkan menyelesaikan seluruh argumennya, maka medan budaya akan tampak sebagai ruang yang perlahan kehilangan otonominya di bawah tekanan logika modal. Jika Antonio Gramsci menyelesaikan argumennya, maka kritik pada akhirnya akan diserap oleh hegemoni dan berubah menjadi bagian dari mekanisme yang justru memperkuat legitimasi sistem. Jika Erving Goffman menyelesaikan argumennya, maka setiap aktor sosial akan terlihat sibuk mengelola citranya sendiri, sementara kenyataan di belakang panggung terus disembunyikan oleh pertunjukan di depan panggung.

Jika ketiga kerangka teori tersebut didorong sampai pada ujung logikanya, tampaknya hanya ada satu kesimpulan yang tersisa: kita sedang menyaksikan sebuah panggung yang ditentukan oleh struktur, dan hampir tidak ada seorang pun yang benar-benar berada di luar jangkauannya.

Namun sebelum menerima kesimpulan itu begitu saja, ada beberapa pertanyaan yang perlu diajukan. Bukan karena pertanyaan-pertanyaan ini memiliki jawaban yang jelas, melainkan karena tanpa pertanyaan tersebut, analisis hanya akan berhenti sebagai analisis, dan tidak pernah berubah menjadi perenungan.

Di Indonesia hari ini, seberapa besar kemampuan medan seni untuk menentukan sumber daya mana yang dapat diterima dan mana yang seharusnya ditolak? Jika seluruh pameran berskala besar membutuhkan dana, sementara dana itu hampir selalu datang dari kekuasaan politik, modal negara, atau modal korporasi, lalu apa sebenarnya makna otonomi artistik? Apakah ia berarti menolak semua sumber daya yang bermasalah? Ataukah ia berarti menerima sumber daya tersebut, namun tetap mempertahankan kemampuan untuk mengkritik pihak yang memberikannya? ArtJog 2026 tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ia hanya membuatnya terlihat.

Dan pada saat pertanyaan-pertanyaan itu muncul ke permukaan, saya memilih untuk tidak sepenuhnya masuk ke dalam ramalan pesimistis yang ditawarkan teori.

Bukan karena saya memiliki ilusi mengenai kekuatan individu. Melainkan karena jika disatukan, Bourdieu, Gramsci, dan Goffman pada dasarnya sedang berbicara tentang hal yang sama: struktur lebih tahan lama daripada niat baik individu, dan lebih keras kepala daripada satu kali protes. Namun bahkan dalam teori Bourdieu sendiri, aturan sebuah medan bukanlah hukum alam. Ia adalah sesuatu yang dibangun secara sosial, dan karena dibangun, ia juga dapat dibongkar, meskipun prosesnya lambat dan sering kali menyakitkan. Hal yang sama berlaku pada konsep hegemoni Gramsci: hegemoni tidak pernah benar-benar permanen. Ia harus terus-menerus direproduksi agar dapat bertahan. Karena itu, setiap penolakan untuk ikut bermain menurut aturan yang ada sesungguhnya merupakan gangguan terhadap rantai reproduksi tersebut, sekecil apa pun bentuknya.

Mungkin bunga yang dibawa seniman di pintu masuk JNM tidak mengubah apa-apa. Mungkin sponsor tetap ada. Mungkin struktur tetap berdiri. Namun bunga itu melakukan satu hal yang penting: ia membuat sebuah kesadaran yang selama ini hanya beredar dalam bisik-bisik menjadi sesuatu yang diucapkan secara terbuka. Bahwa pertunjukan ini bukan sesuatu yang sepenuhnya alamiah. Bahwa panggung ini tidak harus diterima begitu saja.

Dalam konteks budaya yang sering menempatkan konflik terbuka sebagai pilihan yang mahal, tindakan seseorang yang memilih membuka mulut di depan gerbang JNM merupakan bentuk penolakan yang kecil, tetapi nyata, terhadap struktur yang ada.

Inilah salah satu alasan mengapa Yogyakarta menempati posisi yang begitu khas dalam lanskap politik kebudayaan Indonesia. Bukan karena para senimannya lebih murni dibandingkan seniman di tempat lain. Bukan pula karena kota ini bebas dari kompromi dan perhitungan. Melainkan karena komunitasnya menyimpan memori kolektif yang lebih keras kepala, memori tentang masa sebelum Reformasi 1998, tentang periode ketika seniman, aktivis, dan mahasiswa menggunakan tubuh, tulisan, mural, poster, dan berbagai bentuk ekspresi lain untuk menolak pembungkaman. Memori itulah yang terus mengingatkan bahwa ada perbedaan antara "diizinkan untuk ada" dan "benar-benar bebas untuk ada". Perbedaan itu mungkin tidak selalu terlihat. Namun ia tidak seharusnya dilupakan.

Mungkin pada kontroversi berikutnya, suara-suara sumbang akan terdengar lebih banyak. Mungkin pada kesempatan berikutnya, bukan hanya satu orang yang berdiri di depan pintu. Harapan itu bukan lahir karena optimisme selalu rasional, melainkan karena jika bahkan harapan pun ditinggalkan, maka ramalan teori itu pun akhirnya benar-benar menjadi takdir. Dan pada saat itulah, struktur akan menang tanpa perlawanan.


【Follow for More】 FB Page: "Hysunburg Travel & Finance Notes" Paman Frank — YouTube Channel Hysunburg Travel — YouTube Channel Threads @hysun6512 Twitter/X @hysunburgTW

© Paman Frank / Hysunburg's Notes|Hak cipta dilindungi. Dilarang menyalin tanpa izin.