Bertahan di Antara Kekuatan Besar: Warisan Seni Politik Kesultanan Yogyakarta

 

Bertahan di Antara Kekuatan Besar: Warisan Seni Politik Kesultanan Yogyakarta

Pada awal 2026, media dan medsos di berbagai wilayah Indonesia dipenuhi perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini merupakan salah satu proyek unggulan paling menonjol dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Anggarannya sangat besar, cakupan penerimanya mencapai jutaan pelajar, dan dukungan kampanye politik yang menyertainya pun tidak kalah masif. Namun di balik ambisi besar tersebut, persoalan implementasi juga muncul dalam skala yang sama: kandungan gizi yang tidak sesuai standar, makanan yang rusak sebelum dikonsumsi, hingga sejumlah kasus keracunan massal yang mendapat sorotan luas.

Respons terhadap program ini beragam. Di sebagian daerah, pemerintah daerah memilih menjalankannya tanpa banyak komentar. Di tempat lain, muncul kritik terbuka, bahkan seruan agar pelaksanaannya dihentikan sementara sampai berbagai persoalan mendasar dapat diperbaiki.

Di tengah spektrum respons tersebut, sikap Hamengkubuwono X, Sultan Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY, terasa berbeda.

Ia tidak memilih jalan konfrontasi terbuka. Ia juga tidak menuntut penghentian program sebagaimana dilakukan sebagian kepala daerah lain yang khawatir anggaran pendidikan akan tergerus. Yang ia lakukan justru lebih sederhana sekaligus lebih menarik: memanggil para pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan MBG di Yogyakarta, meminta agar informasi kandungan gizi dicantumkan secara jelas pada menu, dan menuntut transparansi penggunaan anggaran.

Beberapa waktu kemudian, setelah melakukan inspeksi langsung ke sebuah sekolah menengah atas, ia melontarkan komentar yang segera menyebar luas. Kurang lebih ia berkata: "Kalau makanan disiapkan pukul setengah dua pagi dan baru dimakan pukul delapan pagi, ya jangan heran kalau basi."

Kalimat itu disampaikan tanpa nada marah. Tidak ada seruan politik. Tidak ada tuduhan keras. Namun daya kritiknya terasa tepat sasaran.

Cara berbicara semacam ini bukanlah bentuk kepatuhan, tetapi juga bukan perlawanan terbuka. Ia merupakan bentuk bahasa politik yang lebih presisi: menyampaikan kritik di dalam batas-batas yang masih dapat diterima oleh sistem, membuat persoalan menjadi terlihat, tetapi tanpa menempatkan diri secara langsung sebagai lawan pemerintah pusat. Kritik tersampaikan. Sikap politik terbaca. Namun tidak ada celah bagi siapa pun untuk menuduhnya sebagai pembuat kegaduhan.

Ternyata, bahasa semacam ini telah diwariskan di dalam keluarga tersebut selama hampir tiga abad.

Menyeberangi Satu Tembok, Lalu Tembok Berikutnya

Untuk memahami daya tahan politik Kesultanan Yogyakarta, kita perlu kembali pada cara kerajaan ini lahir.

Pada tahun 1755, Kesultanan Mataram terpecah melalui Perjanjian Giyanti yang dimediasi oleh VOC. Wilayah barat berkembang menjadi Kesultanan Yogyakarta, sementara wilayah timur menjadi Kesultanan Surakarta yang kini berpusat di Kota Solo. Perpecahan ini bukan hasil kesepakatan sukarela antara dua keluarga kerajaan. Ia merupakan penerapan klasik strategi divide et impera — memecah satu entitas politik menjadi dua kekuatan yang saling bersaing sehingga keduanya tidak lagi memiliki kemampuan untuk menantang kekuasaan kolonial secara efektif.

Dalam banyak wilayah koloninya, Belanda berulang kali menggunakan pendekatan serupa. Memecah struktur kekuasaan yang telah ada menjadi unit-unit yang saling mencurigai bukan sekadar taktik situasional — ia adalah filosofi pemerintahan yang diterapkan secara sistematis di seluruh wilayah kolonial Belanda.

Namun sejak awal, keluarga kerajaan Yogyakarta tampaknya memahami sifat dasar permainan ini. Untuk bertahan hidup dalam tatanan yang telah dipisah-pisahkan tersebut, mereka tidak mengandalkan konfrontasi militer. Mereka memilih jalan lain: menemukan posisi yang memungkinkan mereka tetap berada di atas papan permainan politik pada setiap titik perubahan sejarah.

Sejak masa Hamengkubuwono I, hubungan antara Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah kolonial Belanda dapat digambarkan sebagai bentuk kerja sama yang terbatas. Kerja sama itu ada karena pilihan yang tersedia sangat sedikit. Namun ia juga terbatas karena keluarga kerajaan tidak pernah melepaskan satu hal yang paling penting: posisi moral mereka di mata masyarakat Jawa. Tentara dapat dibatasi. Wilayah dapat diperkecil. Kekuasaan administratif dapat dipangkas. Tetapi selama masyarakat Jawa masih melihat sultan sebagai pusat tatanan moral dan budaya mereka, masih ada sesuatu yang tidak dapat dirampas begitu saja oleh kekuasaan kolonial.

Dan ketika kerja sama mulai menyentuh batas-batas moral yang sulit diterima, keluarga ini juga menunjukkan bahwa mereka tahu kapan harus menyeberangi tembok yang sebelumnya mereka hormati.

Diponegoro dan Tembok yang Tak Lagi Bisa Dihindari

Diponegoro, putra Sultan ketiga, tumbuh dengan menyaksikan bagaimana masyarakat Jawa semakin terjepit oleh berbagai kebijakan kolonial. Beban pajak meningkat. Sistem penyewaan tanah merugikan petani. Pembangunan jalan merampas lahan yang telah diwariskan turun-temurun. Campur tangan pemerintah kolonial dalam kehidupan masyarakat lokal semakin dalam dari tahun ke tahun. Bagi rakyat kecil, tekanan tersebut bukan sekadar persoalan politik — ia hadir dalam bentuk penderitaan sehari-hari yang terus menumpuk.

Yang lebih sulit diterima oleh Diponegoro adalah kenyataan bahwa sebagian anggota keluarga kerajaan mulai terikat semakin erat dengan kepentingan kolonial. Beberapa memilih keamanan pribadi dan keuntungan material dengan cara mendekat kepada penguasa Belanda. Di mata Diponegoro, ini bukan sekadar kesalahan moral — ini adalah pengikisan perlahan terhadap sumber legitimasi paling berharga yang dimiliki kesultanan: kepercayaan rakyat. Sebuah istana yang melindungi penjajah, pada akhirnya tidak lagi mampu mengklaim dirinya sebagai pelindung masyarakatnya sendiri.

Pada tahun 1825, Diponegoro memilih jalan pemberontakan. Perang Jawa yang berlangsung hingga tahun 1830 kemudian menjadi konflik paling mahal dan paling sulit yang pernah dihadapi Belanda selama masa kolonial di Hindia Timur. Mobilisasi pasukan berlangsung dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara perang berkepanjangan jauh melampaui perkiraan awal pemerintah kolonial. Pada akhirnya, Diponegoro ditangkap ketika menghadiri perundingan yang dijanjikan berlangsung dengan jaminan keamanan penuh — sebuah janji yang tidak pernah dipegang oleh pihak Belanda. Ia kemudian diasingkan ke Makassar dan menghabiskan sisa hidupnya di sana hingga wafat pada tahun 1855, tanpa pernah kembali ke tanah Jawa.

Perang itu kalah. Tetapi ada sesuatu yang lain yang berhasil dimenangkan.

Dalam historiografi resmi Indonesia, Diponegoro dikenang sebagai pahlawan nasional. Menjadikan seorang tokoh yang kalah secara militer sebagai pahlawan nasional sesungguhnya merupakan tindakan politik dan budaya tersendiri. Pilihan tersebut mengubah ukuran kepahlawanan: yang terpenting bukanlah kemenangan, melainkan pihak mana yang dipilih untuk dibela.

Bagi Kesultanan Yogyakarta, warisan Diponegoro meninggalkan sebuah titik acuan yang sangat kuat dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa: bahwa pada saat paling menentukan, pernah ada seseorang dari keluarga ini yang memilih berdiri bersama rakyat, bukan bersama penjajah. Meski demikian, kenyataan sejarah juga lebih rumit daripada legenda yang kemudian diwariskan — perlawanan Diponegoro tidak hanya ditujukan kepada pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga kepada praktik-praktik politik istana yang menurutnya telah menyimpang dari tanggung jawab moralnya. Namun apa pun kompleksitas sejarahnya, memori tentang Diponegoro terus hidup dan pada berbagai titik perubahan sejarah berikutnya, memori itu terus dipanggil kembali.

Sebuah Kanal, Diplomasi, dan Perhitungan Politik

Tinggal di Yogyakarta cukup lama membuat seseorang sesekali menemukan jejak-jejak sejarah yang nyaris tidak lagi diperhatikan oleh warga setempat — hadir begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga keberadaannya justru menjadi tak terlihat.

Salah satu jejak itu adalah Selokan Mataram. Kanal irigasi sepanjang kurang lebih 31 kilometer ini menghubungkan Sungai Progo di sebelah barat dengan Sungai Opak di sebelah timur, membentang melintasi sisi utara Kota Yogyakarta. Di banyak titik, ia tampak seperti saluran air biasa: dinding beton, anak-anak bermain di tepiannya, sesekali warga mencuci atau memancing di dekat aliran air. Kanal ini selesai dibangun pada tahun 1944, di tengah masa paling keras Perang Pasifik, dan di balik pembangunannya tersimpan salah satu manuver politik paling cermat dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta.

Setelah menduduki Jawa, pemerintah militer Jepang menerapkan sistem Romusha — mobilisasi tenaga kerja paksa untuk mendukung berbagai proyek pembangunan dan logistik perang di wilayah kekuasaan Jepang. Bagi banyak keluarga Jawa, panggilan Romusha hampir identik dengan hukuman mati. Kondisi kerja sangat buruk, tingkat kematian tinggi, dan banyak yang berangkat tidak pernah kembali.

Dalam situasi inilah Hamengkubuwono IX mengajukan sebuah usulan kepada otoritas militer Jepang. Wilayah di antara Sungai Progo dan Sungai Opak memiliki lahan pertanian yang luas tetapi kekurangan air pada musim kemarau. Jika kedua sungai tersebut dihubungkan melalui sebuah kanal irigasi, luas lahan produktif akan bertambah, hasil panen padi meningkat, dan pasokan pangan yang dibutuhkan selama masa pendudukan dapat diperkuat. Bagi Jepang, usulan itu masuk akal. Mereka menerimanya.

Di sinilah gagasan naskah tersembunyi yang dikemukakan oleh James C. Scott menemukan salah satu ilustrasinya yang paling menarik — meskipun dengan catatan penting bahwa Scott sebenarnya mengembangkan konsep tersebut untuk memahami kelompok-kelompok subordinat dan masyarakat petani, bukan elite penguasa seperti seorang sultan. Meski konteks sosialnya berbeda, logika dasarnya tetap relevan. Di permukaan, usulan pembangunan kanal tersebut adalah proposal infrastruktur yang menguntungkan pihak pendudukan. Namun di balik naskah publik itu terdapat tujuan lain yang tidak pernah dinyatakan secara terbuka: memberikan alasan yang cukup kuat bagi Jepang untuk mempertahankan ribuan laki-laki Yogyakarta tetap bekerja di kampung halaman mereka, alih-alih mengirim mereka ke berbagai proyek Romusha yang mematikan. Dua pembacaan tersebut sama-sama benar. Yang satu tidak membatalkan yang lain.

Kanal itu masih mengalir hingga hari ini, masih mengairi sawah-sawah di dataran utara Yogyakarta. Bagi banyak generasi tua yang mengalami masa pendudukan Jepang, kenangan terhadap Hamengkubuwono IX bukan terutama tentang kemegahan istana atau simbol kerajaan. Yang mereka ingat adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana: "Beliau membuat kami tidak perlu pergi."

Secara struktural, logika di balik pembangunan Selokan Mataram tidak jauh berbeda dengan respons Hamengkubuwono X terhadap kontroversi MBG hampir delapan dekade kemudian. Keduanya berangkat dari prinsip yang sama: menemukan titik pengaruh di dalam kerangka yang ditentukan oleh pihak yang lebih kuat, lalu menggunakan ruang yang tersedia untuk melindungi kepentingan masyarakat sendiri. Zaman berubah. Metodenya tetap.

Ketika Mitos Mundur dan Tindakan Politik Mengambil Alih

Ada satu dimensi budaya dalam kekuasaan Kesultanan Yogyakarta yang tidak dapat diabaikan ketika membahas legitimasi politiknya, meskipun dimensi tersebut kini lebih dekat kepada sejarah daripada kehidupan sehari-hari masyarakat modern.

Dalam tradisi Jawa, Sultan Yogyakarta dipercaya memiliki hubungan spiritual dengan Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan. Menurut kepercayaan yang berkembang selama berabad-abad, setiap sultan mewarisi sebagian legitimasi sakral melalui hubungan simbolik tersebut. Pada masa kolonial, mitos ini memiliki fungsi politik yang nyata. Belanda dapat membatasi wilayah kesultanan dan mengontrol militernya, tetapi jauh lebih sulit bagi mereka untuk membongkar posisi simbolik seorang sultan dalam imajinasi budaya masyarakat Jawa. Mitos, dalam konteks ini, bukan sekadar cerita — ia adalah benteng legitimasi.

Antropolog budaya Clifford Geertz, ketika meneliti kerajaan-kerajaan Bali, memperkenalkan konsep negara teater (theatre state). Menurut Geertz, kekuasaan kerajaan tidak semata-mata bertumpu pada kekuatan militer atau perangkat hukum, melainkan pada kemampuan menguasai simbol, ritual, dan pertunjukan budaya. Penguasa mempertahankan kekuasaan dengan menjadikan kehadirannya sendiri sebagai representasi keteraturan dunia. Pertunjukan tidak sekadar mencerminkan kekuasaan — pertunjukan itu menghasilkan kekuasaan.

Dilihat dari perspektif ini, Kesultanan Yogyakarta menawarkan contoh yang menarik. Dari kisah hubungan Sultan dengan Ratu Kidul hingga kemunculan Hamengkubuwono X di tengah demonstrasi larut malam, kita dapat melihat pola yang serupa: kekuasaan terus diproduksi melalui simbol dan kehadiran publik. Panggungnya berubah — dari lingkungan Kraton ke jalanan kota — tetapi logikanya tetap. Namun hal ini segera memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang terjadi ketika dekorasi panggung yang paling tua mulai kehilangan daya tariknya?

Masyarakat Yogyakarta masa kini umumnya memandang legenda Ratu Kidul dengan campuran rasa hormat budaya dan sedikit skeptisisme. Di kawasan Parangtritis, kisah tersebut masih sering diceritakan kepada para wisatawan. Namun hanya sedikit orang yang benar-benar menggantungkan keyakinan politik mereka pada mitologi tersebut. Meski demikian, legitimasi Kesultanan Yogyakarta tidak ikut menghilang.

Di sinilah pemikiran Max Weber menjadi berguna. Weber membagi sumber legitimasi politik ke dalam tiga bentuk: otoritas tradisional, otoritas legal-rasional, dan otoritas kharismatik. Kesultanan Yogyakarta menarik karena selama berbagai periode sejarah, ketiga sumber legitimasi tersebut beroperasi secara bersamaan. Otoritas tradisional berasal dari garis keturunan kerajaan, adat istiadat, dan narasi sakral yang mengelilingi institusi kesultanan. Otoritas legal-rasional berasal dari kedudukan hukum DIY dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, yang memberikan hak istimewa kepada sultan untuk menjabat sebagai gubernur secara turun-temurun — sebuah pengaturan yang tidak memiliki padanan di provinsi mana pun di Indonesia. Otoritas kharismatik muncul dari tindakan-tindakan pribadi para sultan pada saat-saat penting dalam sejarah, tindakan yang menciptakan keterikatan emosional yang tidak dapat dipaksakan oleh undang-undang mana pun.

Salah satu wawasan terpenting Weber adalah bahwa proporsi ketiga sumber legitimasi ini dapat bergeser dari waktu ke waktu tanpa membuat keseluruhan struktur legitimasi runtuh — selama peralihan tersebut berlangsung secara bertahap, bukan tiba-tiba. Inilah yang tampaknya terjadi di Yogyakarta. Ketika daya legitimasi yang bersumber dari mitologi mulai memudar, ruang kosong yang ditinggalkannya perlahan diisi oleh tindakan-tindakan politik yang nyata dan dapat dilihat oleh masyarakat. Simbol berubah. Namun struktur legitimasi tetap utuh.

Pada tahun 1998, ketika rezim Soeharto mendekati akhir kekuasaannya, Hamengkubuwono X keluar dari lingkungan istana dan menyampaikan pernyataan yang mendukung reformasi serta menyerukan agar perubahan politik berlangsung secara damai di hadapan ratusan ribu warga yang berkumpul di alun-alun utara Kraton. Bagi banyak warga Yogyakarta, momen itu memiliki dampak simbolik yang jauh melampaui legenda apa pun. Dalam kerangka Weber, peristiwa tersebut merupakan salah satu contoh paling jelas mengenai pergeseran legitimasi dari otoritas tradisional menuju otoritas kharismatik. Dalam kerangka Geertz, itu adalah salah satu pertunjukan paling kuat dari logika negara teater di era modern — hanya saja, panggungnya tidak lagi berada di halaman istana. Panggung itu kini berada di jalan raya.

Pada akhir Agustus 2025, Indonesia diguncang oleh gelombang demonstrasi nasional yang oleh sejumlah pengamat digambarkan sebagai kerusuhan sipil paling serius dalam beberapa dekade terakhir. Pemicu awalnya adalah terungkapnya tunjangan perumahan anggota DPR yang mencapai lima puluh juta rupiah per bulan. Namun kemarahan publik benar-benar meledak setelah beredarnya video kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol berusia 21 tahun yang tewas setelah terlindas kendaraan lapis baja milik aparat saat demonstrasi di Jakarta pada 28 Agustus. Dalam hitungan jam, rekaman tersebut menyebar ke seluruh negeri dan demonstrasi muncul di puluhan kota.

Di Yogyakarta, massa berkumpul di depan POLDA DIY. Larut malam, sebuah mobil mendekat ke lokasi aksi. Dari dalamnya keluar Hamengkubuwono X, ditemani dua putrinya. Kerumunan spontan membuka jalan. Terdengar tepuk tangan. Ia kemudian mengundang perwakilan demonstran untuk berdialog secara langsung. Di saat yang sama, pemerintah pusat merespons krisis melalui pernyataan resmi presiden yang mengutuk tindakan aparat berlebihan dan menjanjikan penyelidikan — sebelum akhirnya membatalkan agenda kunjungan kenegaraan dan mendorong pencabutan kebijakan tunjangan yang memicu kemarahan publik.

Kedua respons tersebut sama-sama merupakan respons politik. Namun keduanya berangkat dari logika yang berbeda. Yang satu berbicara melalui institusi, dari balik meja, melalui kamera. Yang lain hadir secara fisik di tengah masyarakat, larut malam, di lokasi tempat warganya berkumpul. Hamengkubuwono X tidak menyatakan dukungan terhadap demonstrasi, tidak pula membela aparat. Ia memilih posisi yang lebih sulit namun sekaligus lebih kuat: menjadi figur yang berdiri di antara keduanya — pelindung Yogyakarta, penengah, penjaga stabilitas. Posisi semacam itu tidak lahir dari jabatan formal semata. Ia merupakan hasil akumulasi kepercayaan politik yang dibangun selama beberapa generasi, dan kepercayaan seperti itu tidak dapat diciptakan hanya melalui undang-undang.

Patut dicatat pula, dengan sedikit apresiasi terhadap kekhasan kehidupan politik Indonesia, bahwa ketika sekelompok perwakilan demonstran memasuki gedung pemerintahan pada masa itu, para pejabat menyambut mereka dengan iringan musik penyambutan resmi. Tidak ada yang bisa menjelaskan siapa yang memutuskan hal tersebut. Namun efeknya — ketegangan yang tiba-tiba mencair, kejanggalan yang tidak terduga — adalah sesuatu yang sangat khas Yogyakarta: bahkan di tengah krisis politik, kota ini selalu menemukan cara untuk menyisipkan satu nada absurd yang membuat segalanya terasa sedikit lebih ringan.

Solo dan Yogyakarta: Dua Kerajaan, Dua Nasib

Pada November 2025, Pakubuwono XIII wafat. Sesuai tradisi, jenazahnya diangkut menggunakan kereta kerajaan menuju kompleks pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri, melewati gerbang barat Alun-alun Selatan — sebuah pengingat bahwa keluarga kerajaan Solo dan Yogyakarta masih berbagi ruang sejarah yang sama. Kedua dinasti tersebut berasal dari akar yang sama, sama-sama pewaris Kesultanan Mataram, sama-sama dipisahkan oleh Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Namun setelah itu, jalan sejarah yang mereka tempuh bergerak ke arah yang sangat berbeda.

Titik perbedaannya muncul paling jelas pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ketika Republik Indonesia yang baru lahir menghadapi ancaman serius dari upaya Belanda untuk kembali berkuasa, Hamengkubuwono IX mengambil keputusan politik yang menentukan. Ia menyatakan dukungan terbuka terhadap kemerdekaan Indonesia, menyediakan dukungan material dan logistik bagi pemerintahan Soekarno, serta mengizinkan Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan republik ketika Jakarta tidak lagi aman. Itu adalah sebuah investasi politik yang sangat besar — dan hasilnya luar biasa. DIY memperoleh status daerah istimewa, jabatan gubernur secara turun-temurun tetap berada di tangan sultan, dan kesultanan memperoleh kedudukan yang unik dalam sistem republik Indonesia.

Di pihak lain, Kesunanan Surakarta tidak berhasil membangun tingkat kepercayaan politik dan dukungan sosial yang setara selama masa revolusi. Akibatnya, setelah Indonesia merdeka, Surakarta mempertahankan statusnya sebagai kerajaan budaya, tetapi kehilangan sebagian besar pengaruh politik formalnya. Tidak ada daerah istimewa. Tidak ada gubernur turun-temurun. Tidak ada posisi khusus dalam struktur negara.

Ironisnya, tujuan awal Belanda ketika memecah Mataram adalah melemahkan kedua kerajaan sekaligus. Dalam kasus Surakarta, strategi itu pada akhirnya berjalan sesuai harapan kolonial — energi politik kesultanan perlahan terkuras dalam panjangnya proses negosiasi dengan kekuasaan kolonial, hingga ketika momen sejarah yang menentukan tiba, tidak ada lagi cukup modal untuk dipertaruhkan. Dalam kasus Yogyakarta, hasilnya berbeda. Selama hampir dua abad, keluarga kerajaan Yogyakarta belajar bertahan hidup di dalam sistem yang dirancang oleh pihak lain. Dan ketika momen itu tiba, mereka memilih untuk meninggalkan papan permainan lama dan menempatkan seluruh modal politik mereka pada proyek baru bernama Indonesia. Langkah itu tidak pernah diperhitungkan oleh Belanda.

Tembok Berikutnya Bernama Gender

Jika ada satu pola yang terus berulang sepanjang sejarah Kesultanan Yogyakarta, maka pola itu adalah kemampuan menemukan posisi yang tepat di tengah perubahan zaman. Ketika Belanda datang, mereka bekerja sama secukupnya. Ketika batas moral kerja sama itu tercapai, muncul Diponegoro. Ketika Jepang datang, mereka membangun Selokan Mataram. Ketika republik lahir, mereka memilih berpihak kepada kemerdekaan. Ketika Reformasi meledak, mereka keluar dari istana. Ketika demonstrasi nasional kembali mengguncang Indonesia, mereka hadir di tengah massa. Ketika MBG menuai kontroversi, mereka mengkritik tanpa harus berkonfrontasi. Setiap generasi tampaknya berhasil menemukan ruang geraknya sendiri.

Namun kini keluarga tersebut menghadapi tantangan yang berbeda dari semua tantangan sebelumnya. Tantangan itu tidak datang dari kekuatan kolonial, tidak dari pemerintah pusat, tidak dari jalanan. Ia datang dari dalam. Dari tradisi itu sendiri.

Hamengkubuwono X tidak memiliki putra. Kelima anaknya adalah perempuan. Di luar lingkungan istana, banyak pihak meyakini bahwa putri sulungnya akan menjadi penerus takhta di masa depan. Namun kemungkinan tersebut memunculkan perdebatan panjang di lingkungan internal kerajaan karena selama berabad-abad, suksesi Kesultanan Yogyakarta selalu diasosiasikan dengan garis keturunan laki-laki. Seorang sultan perempuan belum pernah memiliki preseden dalam sejarah kesultanan.

Di sinilah seluruh perangkat politik yang selama ini terbukti efektif mulai menghadapi batasnya. Diplomasi, kemampuan membaca situasi, keahlian membangun koalisi, bahasa politik yang presisi — semua itu dirancang untuk menghadapi tekanan dari luar. Tetapi kini yang harus dinegosiasikan bukan lagi hubungan dengan pihak eksternal, melainkan makna tradisi itu sendiri. Mereka yang perlu diyakinkan bukan penjajah, bukan presiden, bukan demonstran — melainkan orang-orang yang sejak lama meyakini bahwa seorang sultan haruslah laki-laki.

Dalam kerangka Weber, apa yang selama ini menjadi sumber kekuatan — otoritas tradisional — kini berpotensi berubah menjadi hambatan. Dalam kerangka Geertz, negara teater menghadapi persoalan baru: selama berabad-abad, naskah pertunjukan telah ditulis dengan asumsi bahwa pemeran utama adalah seorang laki-laki. Pertanyaannya sekarang bukan lagi bagaimana mempertahankan panggung, melainkan apakah penonton bersedia menerima pemeran utama yang berbeda. Jika mitologi pernah menjadi benteng yang melindungi kesultanan dari campur tangan kolonial, maka dalam persoalan suksesi, mitologi yang sama juga dapat berubah menjadi penghalang — karena hubungan simbolik antara sultan dan Ratu Kidul selama ini selalu dibayangkan dalam kerangka seorang penguasa laki-laki.

Selama tiga abad, keluarga ini berhasil bertahan melalui kemampuan membaca perubahan zaman dan menemukan posisi yang tepat di dalamnya. Tetapi kali ini pertanyaannya berbeda: bahasa politik seperti apa yang dapat membuat seorang sultan perempuan diterima sekaligus oleh tradisi dan masyarakat modern? Tembok ini mungkin tidak dapat ditembus hanya dengan diplomasi atau kecerdikan politik. Ia lebih mendasar dan lebih sulit daripada tembok-tembok sebelumnya — sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar satu keputusan politik, melainkan sebuah tradisi yang selama ratusan tahun dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak perlu dipertanyakan.

Babak selanjutnya dari kisah ini sedang ditulis sekarang.


Esai ini merupakan pengembangan analitik dari sejumlah catatan budaya dan pengamatan sosial yang berjudul “Jogja Notes” dalam Bahasa Mandarin, meliputi: "Selokan Mataram — Kanal yang Mencerminkan Kemampuan Diplomasi Kesultanan Yogyakarta" (Mei 2024); "Sultan Yogyakarta dan Hubungan Spiritualnya dengan Ratu Kidul" (Juni 2024); "Kesultanan Hamengkubuwono Memang Pintar Berpolitik" (Agustus 2025); "Jepang Punya Bunga Krisan dan Pedang; Yogyakarta Punya Melati dan Keris" (Agustus 2025); "Protokol Punya Keistimewaannya Sendiri — Musik Penyambutan Resmi Sultan-Gubernur" (September 2025); "Wafatnya Sultan Solo — Soal Kekerabatan Kerajaan dan Divergensi Sejarah" (November 2025).


【Follow for More】 FB Page: "Hysunburg Travel & Finance Notes" Paman Frank — YouTube Channel Hysunburg Travel — YouTube Channel Threads @hysun6512 Twitter/X @hysunburgTW

© Paman Frank / Hysunburg's Notes|Hak cipta dilindungi. Dilarang menyalin tanpa izin.