最新文章

Label, Ingatan, dan Invisibilitas: Dilema Identitas Seorang Taiwan di Indonesia

 

Label, Ingatan, dan Invisibilitas: Dilema Identitas Seorang Taiwan di Indonesia

“Impossible Subject Position” di Bawah Cahaya Bulan Tropis

Selama dua tahun tinggal di Yogyakarta, lanskap keseharian yang paling akrab bagiku selalu dipenuhi oleh kelembapan khas daerah tropis dan asap pembakaran sampah yang perlahan menyebar di udara pagi.

Pada malam Festival Pertengahan Musim Gugur tahun lalu, aku duduk di depan restoran kecil milik sesama perantau Taiwan bernama Pranoto. Sambil membolak-balik sate di atas bara api, ia dengan teliti memastikan kepada istrinya yang berasal dari Indonesia, Siti, mengenai beberapa mooncake yang sengaja mereka pesan—berisi pasta biji teratai, kacang merah, dan kuning telur asin. Di atas meja juga tersaji Gudeg, masakan tradisional Jawa yang disiapkan istrinya untuk malam itu.

Sekilas, pemandangan tersebut tampak seperti narasi harmonis tentang integrasi lintas budaya. Namun ketika berada di tengah suasana itu, aku justru merasakan semacam dislokasi eksistensial yang sangat dalam.

Di era ketika globalisasi, mobilitas lintas negara, dan narasi tentang “belonging transnasional” dirayakan di mana-mana, pengalamanku sehari-hari di Yogyakarta justru memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih rumit: keberadaan seorang Taiwan di Indonesia perlahan menyerupai apa yang dalam cultural studies disebut sebagai impossible subject position.

Kondisi ini bukan sekadar persoalan adaptasi individu atau pengalaman personal yang kebetulan terjadi. Ia merupakan celah struktural yang dibentuk oleh penghapusan sejarah, tarik-menarik geopolitik, dan arus kapital global yang tidak simetris.

Jejak-jejaknya hadir dalam kehidupan sehari-hari: pada label bahasa yang sulit dikategorikan; pada lanskap budaya yang terfragmentasi; pada hilangnya subjek di balik pesta komoditas; hingga pada ingatan tubuh yang secara keras kepala menolak melupakan trauma sejarah.

Ketika aku meninjau kembali rangkaian “Catatan Yogyakarta” yang kutulis selama dua tahun terakhir, aku mulai mencoba memberi nama pada rasa sakit dan keterasingan itu melalui lensa cultural studies dan sosiologi—untuk menunjukkan gravitasi struktural yang tersembunyi di balik kehangatan hidup sehari-hari.


Politik Penamaan: Dinamai atau Didefinisikan?

Salah satu kebingungan yang paling sering kutemui di Yogyakarta justru datang dari bahasa itu sendiri.

Kadang-kadang, teman-teman lokal Indonesia dengan nada santai—bahkan sedikit bercanda—akan berkata kepadaku: “Kamu dari China, ya?”

Bagiku, itu tidak selalu terasa sebagai penghinaan politik secara langsung. Namun setiap kali mendengarnya, aku selalu terjebak dalam labirin makna dan referensi identitas.

Dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia, penamaan terhadap etnisitas dan geopolitik membentuk jaringan diskursif yang sangat sensitif dan terus berubah. Hal ini mengingatkanku pada pemikiran Michel Foucault mengenai discourse and power.

Foucault menekankan bahwa discourse tidak pernah sekadar kumpulan simbol bahasa. Ia adalah mekanisme kekuasaan yang melalui proses penamaan, klasifikasi, eksklusi, dan definisi, membentuk subjek sosial sekaligus menjalankan kontrol sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika aku mencoba memahami berbagai istilah yang digunakan dalam konteks Indonesia, aku mulai menyadari bahwa setiap kata menyimpan lapisan relasi kuasa historis yang berat:

Label

Konteks Historis dan Diskursif

Cina / Orang Cina

Warisan segregasi kolonial Belanda. Setelah tragedi anti-Tionghoa 1965, rezim Orde Baru di bawah Soeharto menjadikannya sebagai istilah resmi yang dipaksakan negara, dengan nuansa diskriminasi dan eksklusi politik yang kuat.

Tionghoa / Tiongkok

Berasal dari pelafalan Hokkien untuk “Zhonghua” dan “Zhongguo”. Setelah era Reformasi, istilah ini perlahan dipulihkan dalam ruang publik dan institusional sebagai upaya memulihkan martabat komunitas Tionghoa Indonesia.

Cindo

Singkatan populer dari “Cina-Indonesia”, lazim digunakan generasi muda urban dengan nuansa budaya populer kontemporer.

Taiwanese / Chinese Taipei

Label teknokratis hasil kompromi geopolitik internasional. Dalam media Indonesia seperti Kompas, penggunaan “Taiwan” dan “Chinese Taipei” sering berubah tergantung konteks berita—apakah olahraga, ekonomi, atau politik.

Sebagai orang Taiwan yang hidup di Yogyakarta, aku merasa seolah dikepung oleh struktur sejarah tersebut.

Di sistem registrasi Gadjah Mada University, kolom kewarganegaraanku diberi anotasi “province of China.” Dalam slide acara kelulusan, aku berubah menjadi “Chinese Taipei.” Pembawa acara memperkenalkanku sebagai seseorang dari “Taiwan,” tetapi sertifikat resmi menuliskan identitasku sebagai “Taiwanese.”

Melihat bagaimana istilah-istilah ini bergeser secara ambigu antara noun dan adjective membuatku menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak sepenuhnya kusadari:

Sebagai perantau Taiwan di Indonesia, aku sebenarnya bukan sedang “membangun identitas,” melainkan dipaksa masuk ke dalam sistem klasifikasi yang tidak pernah ikut kubentuk—sebuah sistem yang penuh dengan jejak kolonialisme dan kompromi kekuatan global.

Subjektivitasku dipotong, disusun ulang, dan dinegosiasikan sesuai arah angin geopolitik internasional.

Di sini, bahasa yang dipaksakan dari luar berubah menjadi penjara identitas yang tak terlihat, mengurung individu di dalam abu sejarah.


Akar yang Retak: Ketika Pewarisan Budaya Menjadi Bentuk Kosong

Setiap Tahun Baru Imlek, kawasan Pecinan Ketandan di Yogyakarta selalu berubah menjadi ruang festival yang penuh lampion dan dekorasi merah.

Pada salah satu malam perayaan Imlek tahun 2025, aku berjalan bersama teman-teman lokal mengunjungi festival budaya yang berlangsung sejak hari kesembilan kalender lunar hingga Cap Go Meh.

Namun di tengah suara gong dan tabuhan drum yang riuh, yang kulihat justru semacam mimikri budaya yang aneh dan kosong.

Di jalanan, orang-orang mengenakan cosplay karakter Journey to the West yang diwariskan dari film-film Hong Kong lama. Dari pengeras suara terdengar lagu Tahun Baru Imlek milik Andy Lau, bahkan lagu tema drama Taiwan Meteor Garden ikut diputar.

Pemandangan ini mengingatkanku pada konsep social memory dari sosiolog Paul Connerton.

Connerton menekankan bahwa keberlangsungan memori sosial sangat bergantung pada hubungan antara bodily practices dan commemorative rituals. Ketika kekerasan negara memutus praktik bahasa dan konteks tekstual suatu komunitas, ritual mungkin dapat dihidupkan kembali bertahun-tahun kemudian, tetapi kerangka budaya yang menopangnya sebenarnya sudah mengalami keretakan yang tidak dapat dipulihkan.

Di Indonesia, keretakan itu terasa sangat nyata.

Setelah puluhan tahun kebijakan asimilasi dan pembersihan budaya pada masa Soeharto, banyak generasi muda Tionghoa Indonesia di bawah usia tiga puluh tahun telah sepenuhnya kehilangan kemampuan membaca Hanzi maupun berbicara Mandarin.

Patung Guan Gong—dewa perang dalam tradisi Tionghoa—yang berdiri megah di Ketandan kini lebih menyerupai totem visual tanpa konteks tekstual.

Ketika teman-teman lokal berjalan melihat-lihat festival itu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu yang ironis: justru aku, seorang outsider, menjadi satu-satunya orang yang mampu menjelaskan arti tulisan pada pasangan kaligrafi, asal-usul dewa-dewi, tata cara sembahyang, maupun praktik jiaobei (擲筊), ritual melempar balok kayu untuk mencari petunjuk spiritual.

Kehadiran budaya seperti ini justru memperlihatkan sesuatu yang lebih problematis.

Budaya Tionghoa di ruang tersebut sebenarnya tidak lagi hadir sebagai struktur yang utuh. Yang tersisa hanyalah ilusi meriah yang dibangun bersama oleh trauma sejarah dan konsumerisme kontemporer.


Struktur Invisibilitas: Bukan Disalahpahami, tetapi Tidak Dianggap Ada

Di pusat perbelanjaan mewah Pakuwon Mall Jogja, antrean panjang sering terlihat di depan merek minuman asal Taiwan Xing Fu Tang. Slogan “Taiwan No. 1” terpampang besar di papan tokonya.

Di berbagai warung dan kedai kopi di Yogyakarta, teh susu boba telah menjadi simbol konsumsi kelas menengah.

Namun ketika aku bertanya kepada orang-orang lokal, “Apakah kalian tahu bahwa boba berasal dari Taiwan?”, jawaban yang kuterima hampir selalu berupa kebingungan.

Banyak yang bahkan tidak tahu posisi Taiwan di peta.

Bagi mereka, ASUS dan Acer hanyalah merek teknologi global tanpa identitas nasional. Bahkan narasi tentang dominasi semikonduktor TSMC dipahami semata-mata sebagai perpanjangan isu AI Amerika dan NVIDIA.

Pemandangan aneh ini—simbol berlimpah tetapi subjek menghilang—langsung mengingatkanku pada teori global cultural flows dari antropolog Arjun Appadurai.

Menurut Appadurai, globalisasi bukanlah homogenisasi budaya, melainkan sistem sirkulasi yang sangat tidak simetris: simbol tertentu diizinkan bergerak lintas negara, sementara subjek tertentu justru dihapus dari proses tersebut.

Kondisi Taiwan di Indonesia merupakan bentuk konkret dari ketimpangan itu.

Boba, laptop ASUS, dan chip TSMC dapat beredar secara global. Namun “orang Taiwan” sebagai subjek sejarah dan budaya justru secara sistematis dihapus dari peta kognitif masyarakat Indonesia.

Dalam imajinasi kolektif Indonesia, seolah hanya ada dua koordinat yang sah: “Tiongkok” sebagai negara besar, dan “Tionghoa/Cindo” sebagai kategori etnis lokal.

Taiwan sebagai subjek historis yang berbeda hampir tidak memiliki ruang.

Situasi ini membentuk kontras yang tajam dengan konsep cultural appropriation yang sering dibahas dalam cultural studies.

Agar suatu budaya dapat “diapropriasi,” budaya tersebut terlebih dahulu harus memiliki visibilitas subjek yang cukup kuat untuk dikenali.

Namun Taiwan di Indonesia bahkan tidak cukup terlihat untuk dapat “diapropriasi.”

Bentuk invisibilitas struktural ini jauh lebih sulit dihadapi dibanding sekadar kesalahpahaman budaya, karena kita tidak mungkin menjelaskan sesuatu yang dalam kerangka kognitif pihak lain bahkan tidak dianggap eksis.

Akibatnya, baik kapital transnasional maupun individu diaspora perlahan terdorong menuju bentuk penyederhanaan diri yang pragmatis.

Demi menghindari kerumitan politik dan risiko bisnis, kita memilih secara sukarela untuk melembutkan—bahkan menyembunyikan—identitas Taiwan kita sendiri, membiarkan budaya dan simbol kita beredar tanpa asal-usul historisnya.

Sambil mengejar keuntungan ekonomi atau tujuan hidup lain, kita tanpa sadar ikut memperkuat invisibilitas diri sendiri secara institusional: sebuah bentuk penghapusan diri yang sunyi dan tanpa jejak darah.


Bagaimana Individu Memikul Struktur: Keras Kepala Ingatan

Namun seluruh struktur geopolitik, trauma kolektif, dan invisibilitas tersebut pada akhirnya tidak pernah berhenti di tingkat abstraksi akademik.

Ia jatuh secara konkret dan brutal ke dalam kehidupan sensorik manusia nyata.

Aku kembali teringat pada Pranoto, yang memilih menetap di pedesaan Yogyakarta demi melarikan diri dari trauma keluarga yang tragis di Taiwan.

Di rumah yang berdiri tepat di seberang makam kolektif masyarakat Jawa, ia secara rasional menjelaskan berbagai keuntungan tinggal di Indonesia: ruang hidup yang lebih luas, tekanan akademik yang lebih ringan bagi anak-anaknya, serta kesempatan mewujudkan impian masa kecilnya untuk memancing.

Usahanya membangun kehidupan baru melalui rasionalitas sekali lagi mengingatkanku pada konsep embodied memory dari Connerton.

Connerton menegaskan bahwa bentuk ingatan yang paling keras kepala bukanlah ingatan kognitif di otak, melainkan ingatan yang tertanam dalam gerakan tubuh, respons sensorik, dan kebiasaan sehari-hari.

Ingatan semacam itu tidak membutuhkan kesadaran aktif. Bau, suara, atau ruang tertentu saja sudah cukup untuk memicunya secara spontan, menembus pertahanan rasional, lalu meledak langsung melalui tubuh.

Kekejaman trauma terletak pada fakta bahwa ia tidak pernah membutuhkan izin dari rasionalitas.

Pranoto secara sadar memutuskan untuk meninggalkan Taiwan. Ia membangun keluarga baru dan menjadi pemilik restoran Indonesia. Namun tubuhnya terus mengkhianati keputusan tersebut.

Setiap kali ia mengendarai motor bersama putranya yang berusia enam tahun, Hartono, melewati flyover Lempuyangan dan mendengar suara kereta melintas di bawahnya, tubuhnya mulai gemetar tanpa bisa dikendalikan.

Ketika melewati Stasiun Tugu, ia sering jatuh dalam depresi yang panjang.

Jembatan dan rel kereta—simbol trauma dari tanah kelahirannya di Taiwan—muncul kembali secara presisi di ruang Indonesia, seolah melakukan pengejaran lintas negara terhadap tubuhnya sendiri.

Lalu tibalah malam Festival Pertengahan Musim Gugur itu.

Di halaman rumah dekat makam Jawa, Pranoto membakar daun kering dan sampah, mencoba menerjemahkan kembali ritual masa kecilnya—menikmati bulan bersama keluarga dan membakar uang kertas persembahan bagi leluhur—ke dalam ruang tropis Indonesia.

Namun justru pada saat itulah keras kepala ingatan mencapai ledakan terkuatnya.

Wajahnya mendadak kaku. Dalam cahaya api dan asap yang bergoyang, ia perlahan berkata bahwa dirinya melihat kedua orang tuanya yang telah meninggal sedang tersenyum kepadanya.

Pada saat itu, tragedi eksistensi manusia tampak begitu telanjang:

Seseorang mungkin dapat secara rasional berkata, “Aku sudah meninggalkan Taiwan. Sekarang aku hanyalah pemilik restoran Indonesia.”

Namun tubuh dan indranya dapat sepenuhnya mengkhianati pernyataan tersebut pada titik ruang dan waktu tertentu.

Rel kereta Taiwan, bulan purnama Mid-Autumn yang melintasi batas negara, serta emosi dalam dialek yang tidak dapat diterjemahkan secara presisi ke bahasa Indonesia—semuanya mengingatkan bahwa budaya dan trauma bukanlah barang bawaan yang bisa dibuang begitu saja.

Ia adalah beban struktural yang sudah menyatu dengan darah dan tubuh manusia itu sendiri.


Menatap Melankolia di Perbatasan

Malam tropis Yogyakarta semakin larut.

Asap pembakaran daun perlahan menyebar di tepi makam desa, mencampurkan aroma manis pasta teratai dan kuning telur asin, wangi sate yang terbakar, serta kekeringan abu dalam satu udara yang sama.

Namun kisah Mid-Autumn yang tampak damai ini tidak memberikan jawaban final tentang identitas.

Di era ketika perpindahan manusia lintas negara semakin intens, pertanyaan “Kamu berasal dari mana?” tampaknya menjadi semakin ringan dalam narasi kebebasan mobilitas global dan kapitalisme transnasional.

Tetapi bagi mereka yang benar-benar melemparkan tubuhnya ke negeri asing—mereka yang berdiri di batas dua dunia—beban sejarah dan harga eksistensial di balik pertanyaan itu justru menjadi semakin berat untuk dihindari.

Teoretikus budaya Stuart Hall pernah mengatakan bahwa identitas bukanlah esensi yang tetap, melainkan proses yang terus diproduksi (identity as production), terus dinegosiasikan, ditantang, dan diposisikan ulang di dalam persilangan sejarah, budaya, dan kekuasaan.

Bagi para diaspora dan perantau yang hidup di antara dua dunia, proses tersebut tidak pernah terasa ringan.

Ia hadir sebagai kondisi fisiologis yang harus dihadapi tubuh setiap hari.

Identitas bukanlah persoalan yang dapat “diselesaikan” sekali untuk selamanya.

Ia adalah proses yang terus berlangsung—sesuatu yang harus terus dijalani dan ditanggung melalui tubuh dan ingatan itu sendiri.


【Follow for More】 Blog "Hysunburg's Notes": Jogja Notes FB Page: "Uncle Frank di Jogja" FB Page: "Hysunburg Travel & Finance Notes" Paman Frank — YouTube Channel Hysunburg Travel — YouTube Channel Threads @hysun6512 Twitter/X @hysunburgTW

© Paman Frank / Hysunburg's Notes|Hak cipta dilindungi. Dilarang menyalin tanpa izin.

此網誌的熱門文章

【飯店】一個指標、四張圖,用RevPAR道盡台灣飯店業30年風雨興衰

【體驗】開眼界的飛往印度航班—國泰(CX)香港飛印度、印航(AI)國內線

【飯店】關於飯店業的Loyalty Program(一)--不太淺淺地談台灣高端飯店不太算忠誠度計畫的Loyalty Program:餐飲折扣會員卡